Selasa, 22 Juni 2010


Remaja Harus Dapatkan Haknya

Perhatian, buka di jendela baru.PDFCetakE-mail

Rabu, 15 Juni 2010

TAHUKAH kamu kalau anak-anak, termasuk remaja di bawah 18 tahun, dilindungi hak-haknya dalam sebuah konvensi yang sudah diakui negara?
Kalau belum tahu, inilah cerita dari mereka yang berjuang agar hak tersebut dinikmati teman-teman mereka. Awal Mei lalu, ada yang sedikit berbeda dengan suasana di Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Anak di Tangerang, Banten. Para anak didik, sebutan untuk anakanak yang tinggal di lapas tersebut, sedang sibuk mencurahkan isi hati mereka lewat tulisan.
Saat itu mereka memang sedang asyik mengikuti lomba menulis yang dihelat KREATif atau Komunitas Remaja Pena Anak Kreatif. Para peserta lomba ada yang asyik menulis puisi,ada juga yang memilih untuk menulis cerpen. Isinya pun macam-macam. Namun, kebanyakan memang soal kisah hidup mereka yang pilu, yang membuat mereka akhirnya masuk dalam lapas.

Sekilas, lomba tersebut mungkin tak lebih dari lomba menulis biasa, tapi tidak bagi para penghuni lapas dan anggota KREATif. Soalnya, dengan menggelar lomba di dalam lapas, itu artinya para penghuni lapas diberikan kesempatan untuk mengerjakan hobi mereka, sekaligus melepaskan isi hati lewat tulisan. Kenapa hal ini penting bagi mereka? Sebab, banyak yang menganggap kalau sudah masuk penjara maka hak-hak seorang anak akan terputus alias sudah tidak dipedulikan lagi. Padahal, itu sama sekali tidak benar. “Anak-anak yang tinggal di lapas tetap harus mendapatkan haknya untuk tetap belajar dan berkreativitas, seperti remaja lain yang hidup bebas di luar lapas. Kesempatan mereka untuk belajar mungkin berkurang,tapi bukan berarti mereka tidak punya kesempatan sama sekali.

Maka itu, kita berkunjung ke lapas untuk menunjukkan hal tersebut kepada mereka,” jelas ketua KREATif Aditya Pratama. Adit, yang tahun ini baru saja lulus SMA, berkisah tentang salah satu peserta, seorang anak lelaki berumur 7 tahun, yang harus mendekam di lapas selama 15 tahun karena terlibat kasus curanmor (pencurian sepeda bermotor). Menurutnya, si anak tidaklah jahat. Hanya, orang tua yang tidak bertanggung jawab serta lingkungan buruklah yang akhirnya membuat si anak tersebut terjerumus dalam lingkaran hitam.“ Coba saja kalau orang tuanya mengerti akan hak anak untuk sekolah, diasuh, dan dirawat dengan baik, maka anak itu harusnya bisa hidup di luar lapas,”curhatnya.

Cerita lainnya,bisa dijumpai di beberapa panti asuhan yang didatangi KREATif. Hampir sama seperti kegiatan di Lapas Anak Tangerang,di sana mereka juga menggelar acara bakti sosial untuk menunjukkan bahwa masih banyak anak dan remaja di luar yang peduli dengan mereka yang nasibnya kurang beruntung di panti asuhan. Yang paling menakjubkan, KREATif bahkan pernah membuat Pemda Medan menghentikan kegiatan pelacuran oleh anak-anak di sebuah lokalisasi di kota tersebut. Dengan kegiatan advokasi dan pendekatan secara tepat dan fokus, pemerintah akhirnya setuju melarang anak-anak di bawah usia 18 tahun untuk terlibat dalam pelacuran.

Tentang KREATif

Penasaran dengan KREATif dan kegiatan mereka? Memang, komunitas ini bukan komunitas sembarangan. Komunitas yang muncul pada 2007 ini berawal dari para alumni pemenang lomba menulis yang diadakan YKAI (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia) dan UNICEF, badan PBB yang mengurusi masalah anak-anak. Saat itu Adit dan pemenang lainnya, Raisa Aurora, tidak mau kegiatan positif ini berakhir saat telah tercapai pemenang. Lantas, muncullah ide untuk membuat komunitas yang berfokus pada penyampaian gagasan tentang hak anak melalui tulisan.

Pucuk dicintai ulam tiba, keinginan ini didukung penuh oleh YKAI, yang akhirnya menjadi semacam pengawas bagi segala kegiatan yang dilakukan KREATif. Pada langkah awal, mereka membuatbuletin yang diedarkan rutin tiap sebulan sekali. Buletin ini isinya beragam. Mulaiartikel, opini, cerpen, sampai info-info singkat. Buletin dan tabloid tersebut biasanya disebar ke forum-forum anak atau komunitas anak yang tersebar hingga daerah-daerah. Selain itu, anggota KREATif juga kerap diundang untuk mengikuti pertemuan formal untuk anak-anak, seperti Forum Anak Nasional atau Youth Forum.

Dari situ, mereka akan menularkan ilmunya dengan membagikannya pada sebuah pertemuan sebulan sekali dengan para remaja di luar anggota KREATif. (herita endriana)
Sumber:http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/331290/

Kamis, 22 April 2010

Menghadapi Masalah Mei 31, 2008

Posted by safruddin in Artikel Motivasi.
30 comments

Saya tahu bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang akan menolak jika dia dilahirkan tanpa masalah dan selalu bahagia tanpa ada sedikit kesedihan. Tapi apakah itu mungkin ? Bahkan mereka, anda dan saya bahkan mau membayar berapa dollar pun kalo seandainya ada orang yang bisa membuat kita lahir di dunia ini dan hidup di dunia ini tanpa ada masalah dan kesedihan sama sekali. Bahagia selalu bahkan selalu ceria. Ini saya ada sedikit cerita inspirasi yang saya kutip dari sebuah buku yang selayaknya pantas untuk saya tuliskan disini. Buku ini judulnya adalah “Bila anda pikir bisa, Anda pasti bisa melaksanakan dan meraih apa yang anda inginkan”. Mari kita simak cuplikan cerita dari buku ini bersama-sama.
“Bung Norman,” kawan saya menyapa. “Tolong bebaskan saya dari masalah yang menindih hidupku ini, maka saya akan berikan anda seribu dollar uang kontan atas kebaikan jasa anda itu.”Tentu saja saya bukanlah seorang yang suka menampik permintaan semacam itu”. Maka saya pun merenungkan dan mempertimbangkan usul kawan saya itu dan muncul dengan satu pemecahan masalah yang lumayan juga. Sekurang-kurangnya cukup realistis sifatnya. Tetapi George nampaknya agak segan rupanya, sebab ia telah terlanjur menjanjikan 1000 dolar sebagai hadiah.
” Tidak apa george, ” norman berkata. “Saya tetap saja mau bantu kamu. Oleh sebab itu mari kita pecahkan bersama masalahnya. Kalau tidak salah anda ingin bebas dari segala masalah anda itu, bukan ? Sampai habis dan tuntas ?
“Ya Betul,” Jawab George. “Saya ingin lepas dari segala masalah yang saya hadapi dalam hidup ini. Saya sudah bosan dan kapok dalam menghadapi cobaan, ujian dan kemelut dalam hidup ini. Saya ingin bebas untuk selama-lamanya.”
”Baiklah George, saya sudah punya jawabannya”, kata norman. Akan tetapi saya sangsi apakah kau mau menerima jawaban saya atau tidak. Dengarkan ! Beberapa waktu lalu saya sedang melakukan tugas profesionalku, dimana saya harus berhadapan dengan pemimpin kelompok orang-orang yang yang lebih dari puluhan ribu jumlahnya. Dan tak seorang pun dari mereka memiliki masalah kehidupan.”
Wajah george langsung cerah, matanya berbinar-binar kegirangan karena keingin tahuannya.” Nah itulah tempat yang cocok bagi saya. Antarkanlah saya ke tempat itu teman”. Ujar si george girang.
“Baiklah,” jawab si norman.” Tetapi tempat yang saya maksud adalah perkuburan.”
” Dan memang itulah kenyataannya George. Bahwa di perkuburan itu tak ada seorang pun yang menghadapi masalah hidup. Bagi orang yang sudah menjadi penghuni di kuburan tidak akan pernah merasa cemas karena hidup yang penuh masalah itu telah berlalu bagi mereka. Mereka telah istirahat dari tugas dan pekerjaannya tiap hari. Mereka tidak peduli dengan apa yang kita baca dalam koran atau surat kabar atau bahkan apa yang kita lihat ditelevisi mereka sudah tidak peduli. Mereka tak punya masalah lagi dengan kehidupan, mereka beralih masalah pada hidup mereka di alam kubur. Karena memang mereka bukanlah orang hidup dan mereka adalah orang yang sudah mati.” Tegas Norman kepada George.
Dikutip dari Buku Bila Anda Fikir Bisa Anda Pasti Bisa Melaksanakan dan Anda Pasti Bisa Meraih yang Anda Inginkan
Dari cerita diatas sudah jelas sekali bagaimana bahwa secara logis bahwa kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh manusia itu adalah alamat dari kehidupan. Logikanya adalah bagi anda bahwa semakin banyak masalah yang anda hadapi dalam hidup ini maka semakin luas pulalah peluang anda untuk hidup yang terbuka bagi anda. Seseorang misalnya menghadapi 10 masalah yang pelik akan nampak lebih hidup dibandingkan dengan seorang yang bersikap apatis dan hanya memiliki 5 masalah.
Note :
Masalah bukan menjadi alasan kita untuk menghindarinya, namun dengan masalah kita menjadi lebih dewasa dan lebih terbuka menghadapi hidup ini.